Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020

Air dan Api

Orang bilang, amarah tidak boleh dibalas dengan amarah. Orang bilang, kita harus mampu menjadi air untuk memadamkan api dari amarah seseorang. Orang bilang, begitu. Terasa sulit, tetapi saran itu ada benarnya. Kalau api dibalas dengan api, sudah tahu bagaimana jadinya, bukan? Memang, cara terbaik untuk menghadapi orang dengan amarah membara hanyalah dengan mengusahakan membalasnya dengan dingin. Diusahakan, walau kadang terasa sulit. Dipaksakan, walau sering terasa sakit. Dengan menjadi air, hati semakin besar mengharapkan bahwa api di seberang sana berhasil dipadamkan, berhasil ditenangkan. Sesegera mungkin. Secepat mungkin. Kepada si air, akan ada amarah yang tertumpah, akan ada gundah yang merekah. Bagi si api, air adalah penyelamat terbesarnya. Balasan si air akan begitu berpengaruh baginya. Apakah amarah akan mereda atau semakin kuat, tergantung kepada si air. Terutama tergantung kepada si api. Apakah dia ingin membakar begitu lama, atau rela mereda seger...

Menjadi Dewasa? (part 2)

Menjadi dewasa, berarti siap untuk hidup mandiri, berdikari, dan mampu mengendalikan diri. Menjadi dewasa, tentunya harus siap dengan kemungkinan baik dan buruk yang sudah menanti. Menjadi dewasa, tidak ditentukan oleh besarnya angka usia. Menjadi dewasa, bukan berarti tidak boleh merasa lelah. Semakin lama hidup di bumi, tidak selalu menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Ada yang usianya muda, tetapi sudah memiliki pemikiran dan emosional yang matang. Ada yang sudah dewasa usianya, tetapi justru emosional dan pemikiran berkebalikan. See? Kita tidak bisa menyamaratakan semua orang, dan kita tidak bisa begitu saja men- judge seseorang. Beruntunglah jika efek dari judge itu membuatnya bangkit. Jika efeknya justru membuatnya menyerah, siapa yang salah? Dia, atau kita yang men- judge ? Oh, ya, tidak ada yang salah mungkin . Bagi beberapa orang, ada yang memilih berproses untuk berkembang tetapi ia memilih diam. Ia tidak suka orang-orang di sekitarnya mengetahui perkem...

Menjadi Dewasa?

Semakin tua usia, semakin paham bahwa nggak semua orang yang kita beri perhatian akan memperhatikan kita kembali. Nggak ada yang bisa jamin. Sepeduli apapun kita sama seseorang, nggak menjamin mereka akan peduli juga kepada kita. Semakin bertambah angka usia, semakin sedikit juga orang-orang yang satu circle dengan kita. Sepaham dengan kita. Searah dengan kita. Semakin mendahulukan kebahagiaan orang lain, semakin turunlah kecintaan kita kepada diri sendiri, bahwasanya kita pun berhak untuk bahagia. Akhirnya apa? Kita terjebak di sebuah ruangan gelap yang kita ciptakan sendiri. Sebelumnya ruangan itu bercahaya, tetapi diri kita yang memilih menjadi dermawan ini begitu saja merelakan cahaya itu untuk orang lain. Menerangkan ruang orang lain yang justru menjadi bak parasit bagi kehidupan kita. Mengambil cahaya itu seutuhnya dan tidak berencana untuk mengembalikannya. Akhirnya? Menyakiti diri sendiri, bukan? Bagi kebanyakan orang, mulutnya berkata "aku bahagia selag...