Air dan Api

Orang bilang, amarah tidak boleh dibalas dengan amarah.
Orang bilang, kita harus mampu menjadi air untuk memadamkan api dari amarah seseorang.

Orang bilang, begitu.

Terasa sulit, tetapi saran itu ada benarnya.
Kalau api dibalas dengan api, sudah tahu bagaimana jadinya, bukan?

Memang, cara terbaik untuk menghadapi orang dengan amarah membara hanyalah dengan mengusahakan membalasnya dengan dingin. Diusahakan, walau kadang terasa sulit. Dipaksakan, walau sering terasa sakit.

Dengan menjadi air, hati semakin besar mengharapkan bahwa api di seberang sana berhasil dipadamkan, berhasil ditenangkan. Sesegera mungkin. Secepat mungkin.

Kepada si air, akan ada amarah yang tertumpah, akan ada gundah yang merekah. Bagi si api, air adalah penyelamat terbesarnya. Balasan si air akan begitu berpengaruh baginya. Apakah amarah akan mereda atau semakin kuat, tergantung kepada si air. Terutama tergantung kepada si api. Apakah dia ingin membakar begitu lama, atau rela mereda segera. Demi kebaikan bersama. 

Yang paling ditakutkan adalah jika api membakar terlalu lama.
Hal yang paling dikhawatirkan yaitu jumlah air yang seringnya terbatas. Api yang harus ia padamkan terlalu besar. Api yang butuh ia lenyapkan terlalu kuat. 

Lalu, bagaimana akhirnya?
Air sudah tiada, sementara api masih saja membara, menunggu waktu menjadi bara. Padam sendiri. Kemudian, menyusul hilangnya air.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Dewasa? (part 2)