Menjadi Dewasa?

Semakin tua usia, semakin paham bahwa nggak semua orang yang kita beri perhatian akan memperhatikan kita kembali. Nggak ada yang bisa jamin.
Sepeduli apapun kita sama seseorang, nggak menjamin mereka akan peduli juga kepada kita.

Semakin bertambah angka usia, semakin sedikit juga orang-orang yang satu circle dengan kita. Sepaham dengan kita. Searah dengan kita.

Semakin mendahulukan kebahagiaan orang lain, semakin turunlah kecintaan kita kepada diri sendiri, bahwasanya kita pun berhak untuk bahagia. Akhirnya apa? Kita terjebak di sebuah ruangan gelap yang kita ciptakan sendiri. Sebelumnya ruangan itu bercahaya, tetapi diri kita yang memilih menjadi dermawan ini begitu saja merelakan cahaya itu untuk orang lain. Menerangkan ruang orang lain yang justru menjadi bak parasit bagi kehidupan kita. Mengambil cahaya itu seutuhnya dan tidak berencana untuk mengembalikannya.

Akhirnya? Menyakiti diri sendiri, bukan?

Bagi kebanyakan orang, mulutnya berkata "aku bahagia selagi kamu bahagia", tapi setelah itu dia pulang kerumah, kembali ke kamar, lalu menenggelamkan wajahnya di tumpukan bantal sembari membanjiri wajah dengan air mata. 

Orang bilang: lain di mulut, lain di hati. Begitu istilahnya.

Semakin dewasa, semakin sering mengalah agar tetap searah. 
Semakin dewasa, terkadang semakin sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang dusta.
Semakin dewasa, semakin ingin kembali ke masa kanak-kanak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Air dan Api

Menjadi Dewasa? (part 2)